CEO GENERAL ELECTRIC DAN CEO KRAFT FOODS

Dipublikasi pada 03/12/2012 oleh Danang Sudarso Widya Prakoso Joyo Widakdo EK10

Marketing Management Class with Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc

Inspirational Quote:

Jeff Immelt selaku CEO General Electric: Gagal dalam mendapatkan pekerjaan tidaklah lebih buruk, dari pada mendapatkan pekerjaan tetapi gagal dalam melaksanakan tugas dengan baik.

GE

Vidio yang ditayangkan dalam kuliah kali ini, menghadirkan dua CEO perusahaan terkemuka diamerika yaitu CEO Exchange yaitu Jeff Immelt selaku General Electric dan CEO Kraft Foods yaitu Irene Roosevelt. Kemampuan Jeff Immelt selaku General Electric yaitu mampu menguasai hal yang baru, memprediksikan kebutuhan masa depan, peduli lingkungan, target besar pada Business to Business, positioning dapat menguasai dunia dengan produknya. Sejarah kepemimpinan Jeff Immelt baru menjabat empat hai ketika tragedi 11 September 2001. Jeff Immelt menekankan perlunya tim kerja dengan secara teratur menemui karyawan, mengirimkan email yang tulus dan menggunakan humor untuk menurunkan tekanan. Immelt harus merespon peristiwa 11 September dengan cepat dan meminimalkan dampaknya bagi General Electric.

Strategi yang dikembangkan oleh Jeff Immelt:

  • Kembali ke warisan teknologi General Electric dalam skala global
  • Globalisasi
  • Bertaruh pada tiga bidang

Masing-masing bagian ini untuk proses penciptaan kembali dan untuk menjadi besar.  Pada tahun 2006 Jelf Immelt, “ Kita harus mengubah perusahaan jadi lebih inovatif dan kuat sehingga mampu menghadapi lingkungan baru.

Kesuksesan General Electric meliputi:

  • Leadership (Kepemimpinan)
  • Adaptability (Kemampuan beradaptasi)
  • Talent (SDM berbakat)
  • Influence (Pengaruh)
  • Network ( jaringan kerjasama

Inspirational Quote:

Irene Roosevelt selaku CEO dari Kraft foods : Fokus pada konsumen, turun langsung kepada konsumen,  target Business to Customer.

Irene-Rosenfeld1-150x150

Chairman/CEO Kraft Foods Inc yaitu Irene Roosevelt, seorang pemimpin perusahaan makanan ringan global yang baru. Dengan kinerja secara professional dan langsung terlibat dalam pemasaran berhasil membuktikan bahwa dengan memahami keinginan konsumen, perusahaan bisa mendapatkan keuntungan besar. Sebagai produsen besar makanan dan produk minuman, persaingan yang ketat pada harga dan kualitas serta merek yang berkualitas, serta strategi komunikasi pemasaran dengan menggunakan Iklan dan menghasilkan merek pemasaran dalam memainkan peranan penting dalam memenuhi permintaan konsumen dan membangun loyalitas. Sedangkan untuk mengembangkan produknya strategi yang terus dilakukan adalah dengan inovasi secara menyeluruh baik dari segi rasa, merek dan lain-lain, agar produsen dan konsumen tidak jenuh dengan prodak terdahulu. Untuk strategi pemasarannya perusahaan umumnya beroperasi dalam negeri serta mengembangkan sayap industri ke luar negeri, ataupun keNegara berkembang.

Chocolat War (Hershey Vs Mars)

Danang Sudarso Widya Prakoso Joyo Widakdo – Graduate Student of  MB-IPB Class of EK 10

Marketing class lecture note (20 Nopember 2012)

Lecture by Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan

 

 

Inspirational Quote:

“Untuk menguasai pangsa pasar, produksi harus maksimal dengan menjamin kualitas”

“Walaupun tidak mempunyai pendidikan tinggi, kesuksesan itu bisa datang dengan terus bereksperimen dan berinovasi untuk menghasilkan yang terbaik”

 

Video Chocolate war menampilkan tentang persaingan antara dua produsen coklat di Amerika yaitu Harsey dan Mars. Dalam video tersebut terkadung berbagai materi pemasaran salah satunya adalah strategi harga. Pada awalnya, perusahaan chocolate di America merupakan perusahaan keluarga (95%). Namun dalam perjalanan waktunya, kurang dari 60% saja perusahaan keluarga yang masih bertahanForrest ingin membuktikan bahwa untuk mendirikan sebuah perusahaan dan menjadi berhasil, seseorang tidak diperlu dilahirkan kaya raya, namun yang terpenting adalah fokus dalam bekerja. Hershey chocolate mengajarkan kepada kita tentang nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan. Hal ini dapat dilihat dari keputusan Hershey menggunakan sebagian keuntungan perusahaannya untuk CSR (mendirikan sekolah). Dalam keberlanjutan usaha/bisnis, terlepas dari kegagalan generasi kedua dan ketiga dari keluarga Hershey untuk melanjutkan usaha orang tuanya, namun satu hal yang sangat menarik adalah adanya “God Hand” yang selalu menolong bisnis Hershey ketika sedang terpuruk. Sebagai contoh saat Hershey menghadapi masa sulit antara lain disebabkan penetrasi pasar yang dilakukan oleh M&M, kenaikan harga bahan baku (harga chocolate meningkat dari seharga nikel 5 cent meningkat menjadi seharga dime 10 cent), dan perubahan persepsi masyarakat bahwa real chocolate atau chocolate klasik sudah ketinggalan zaman. Diluar didugaan hershey mendapatkan bantuan dari pruduk luar (Godiva). Masuknya godiva di pasar America membantu mengubah image chocolate klasik yang ketinggalan zaman menjadi sesuatu yang eksklusif dan mahal. Salah seorang anak didik dari yayasan Hershey menawarkan bantuan dan masuk menjadi salah satu jajaran management yang handal dalam memimpin perusahaan saat perusahaan terpuruk. Salah satu strategi yang diterapkan oleh perusahaan Chocolate war adalah :

Strategi harga

Price strategy yang digunakan oleh Hershey adalah “price speaks quality” sehingga harga yang diterapkan premium. Sedangkan M&M berusaha mendapatkan market dengan harga produk yang lebih murah dari Hersheys. Dengan penentapan harga yang murah yaitu 5 cent dari hersey sehingga dapat menjangkau konsumen dan mendongkrak menjualan. Hal ini dikarenakan kapasitas pabrik yang besar sehingga harga produksi menjadi rendah. Coklat Hershey lebih mengangkat jargon coklat asli Amerika yang harganya mahal dengan rasa yang lezat. Sedangkan Coklat M&M kompetitornya menetapkan harga yang bersaing murahnya dan  terjangkau karena produk sudah dinovasi menggunakan campuran nugat untuk mencapai pangsa pasar yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. Dengan harga rendah perusahaan dapat pula mengupayakan tercapainya skala ekonomi dan menurunnya biaya perunit. Strategi ini mempunyai perspektif jangka panjang, dimana laba jangka pendek dikorbankan demi tercapainya keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.

 

EK 10 IPB dual mode POLIJE

Sebuah prestasi bagi IPB bekerjasama dengan POLIJE membuat kelas jarak jauh dengan bantuan teknologi sehingga mahasiswa merasa seperti tatap muka. Kami menggunakan Video Conference sehingga suasana kondusif tercipta tanpa hambatan apapun, hanya saja ketika cuaca kurang bersahabat terkadang sinyal lemah dan perkuliahan sedikit terhambat tetapi sejauh ini kami tidak mengalami hambatan yang berarti. Sebuah kebanggaan menjadi bagian dari keberhasilan tersebut. Bravo IPB POLIJE …..

Daftar Pertanyaan Kelompok 3 ” Bab 6 & Bab 7″

  • Masetya Mukti, P056111863.10EK
    • Berbicara ttg nilai posisi strategis perusahaan, tdk jarang faktor internal non-finasial seperti konflik dgn buruh, memberikan pengaruh thdp nilai perusahaan di pasar modal. lalu bgmn relevansi nilai2 internal non-finasial tsb dlm penentuan posisi strategis perusahaan dan restrukturisasi kerangka kerja?
  • Dwi Nur Rifatin Oetami, P056111783.10EK
    • Sejauhmana restrukturisasi kerangka kerja butuh dilakukan? haruskah secara reguler? atau kondisional?
  • Asmaul Husnah,  P056111733.10EK
    • Di Indonesia, mayoritas industri adalah berkapasitas UKM. sejauhmana efektivitas dan efisiensi Balance Scorecard diterapkan di level UKM dalam arti kemungkinan digunakan sbg instrumen unutk meningkatkan kapasitas industrinya?
  • Niken Dyah Kusuma Dewi,  P056111883.10EK
    • Bagaimana implementasi The McKinsey Pentagon bagi idustri dlm dalam negeri dalam menghadapi era CAFTA?
  • Hariono,  P056111823.10EK
    • dalam menentukan strategi pemasaran, manakah tujuan yg lbh utama dicapai antara: omzet, margin(profit) atau shareholder value?
  • Dian Widi Prasetyo, P056111773.10EK
    • Bagaimana keterkaitan antara citra produk perusahaan yang sudah go publik dengan nilai saham perusahaan di bursa efek
  • Adi Wiyono, P056111703.10EK
    • Bisakah digambarkan contoh perusahaan agribisnis Indonesia yang mengimplementasikan Rencana Pemasaran Strategis berbasis shareholder value?
  • Kurniawan Muhammad Nur, P056111853.10EK
    • Bagaimana cara mengukur nilai posisi strategis suatu perusahaan dlm kompetisi bisnis yg dihadapinya?
  • Indah Eko Suryani, P056111833.10EK
    • Bagaimana menurut pendapat anda dalam melakukan penilaian kinerja perusahaan saat ini mengingat penilaian posisi perusahaan secara keseluruhan dan tingkat unit operasi belum dapat dipercaya dalam mengukur penilaian dalam jangka panjang?
  • Sandryas Alief Kurniasanti, P056111903.10EK
    • Bagaimana membangkitkan kelesuan pasar atau konsumen melalui strategi daya tarik pasar yang bisa dikembangkan oleh seorang manajer?
  • Firda Rachma Amalia, P056111813.10EK
    • Bagaimana cara mengantisipasi jangka panjang bagi perusahaan dalam menghadapi ancaman adanya barang subtitusi dan perusahaan-perusahaan competitor baru yang akan muncul di pasar seiring dengan meningkatnya daya tarik pasar?
  • Ujang Tri Cahyono,  P056111963.10EK
    • Manakala ada sebagai seorang manajer perusahaan yang akan berdiri, bagaimana anda meyakinkan pihak investor untuk dapat menilai keunggulan competitive perusahaan anda sehingga mereka mau menginfestasikan dananya untuk perusahaan saudara ?
  • Sari Wiji Utami, P056111913.10EK
    • Bagaimana metode atau cara untuk membangkitkan nilai posisi strategis perusahaan dimata konsumen ketika perusahaan tersebut pernah bangkrut atau gulung tikar
  • Uri Anjarwati, P056111973.10EK
    • Bagaimana keterkaitan antara jiwa kewirausahaan dengan seorang manajer yang bertujuan untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham dan mengangkat citra perusahaan melalui strategi perusahaan bagi pemegang saham ?
  • Sefri Ton, P056111923.10EK
    • Bagaimana melakukan penilaian posisi strategi dengan hanya mengandalkan data yang terkumpul, bagaimana peran indikator kinerja untuk penilaian posisi tersebut kaitkan dengan strategi marketing mix ?
  • Tantri Wijayanti, P056111953.10EK
    • Untuk menciptakan dan menguasai keunggulan kompetitif dan keberlanjutan keuntungan, perusahaan harus memaksimalkan semua pengendali nilai strategis yang dimilikinya. Dalam upaya maksimalisasi nilai strategis tersebut perlu adanya target tingkatan kerja, pendekatan yang paling baik adalah dengan cara mencari perbandingan dengan pesaing. Menurut kelompok 3, bagaimana jika perusahaan tersebut merupakan perusahaan monopoli atau yang berposisi sebagai market leader? Apakah sebuah market leader harus menjadikan chalengger dan follower mereka sebagai bahan perbandingan, bukankah market leader yang biasanya dijadikan patokan atau tolak ukur?
  • Ardito Atmaka Aji, P056111723.10EK
    • Salah satu faktor yang mempengaruhi daya tarik pasar adalah struktur kompetisi pasar, yang salah satu poinnya adalah ancaman dari produk substitusi. Tolong dijelaskan terkait masing-masing tipe substitusi dan berikan contohnya.
  • Shinta Setiadevi, P056111933.10EK
    • Berdasarkan materi yang dipaparkan, kami melihat bahwa penilaian posisi strategis hanya dapat dilakukan pada perusahaan yang telah berjalan. Hal ini disebutkan dari pernyataan tahap pertama dari penilaian posisi strategis adalah mengidentifikasi apakah bisnis sudah berjalan sukses atau belum. Bagaimana dengan perusahaan baru? Bagaimana cara untuk menilai posisi strategisnya?
  • Saleh Assagaf, P056111893.10EK
    • Berdasarkan materi yang dipaparkan terlihat bahwa seorang pemasar harus mengoptimalisasi pasar yang sudah ada.Bagaimana dengan konsep penciptaan produk berdasarkan inovasi sehingga dapat menciptakan pasar?Bagaimana korelasi antara kedua konsep ide tersebut?
  • Edi Sucipto, P056111803.10EK
    • Menurut kelompok 3, apa dan jelaskan fokus strategi terbaik untuk produk-produk yang bersifat kebutuhan?

Adetiya Prananda Putra, P056111693.10EK

  • Ada 2 kekuatan yang mempengaruhi dinamika pasar, yaitu perubahan lingkungan dan evolusi pasar. Tolong dijelaskan bagaimana bentuk evolusi pasar yang dapat mempengaruhi dinamika pasar dan tolong disertakan dengan contohnya.